Electrical Conductivity pada Madu Asli

No comment 596 views

Madu merupakan bahan alami yang memiliki rasa yang unik dan manis. Madu telah dikonsumsi beratus ratus tahun lalu karena nilai nutrisinya yang tinggi dan bermanfaat untuk kesehatan tubuh. Madu juga dipercaya mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit. Berdasarkan penelitian, madu mengandung 181 zat, diantaranya gula, air, protein, vitamin, mineral, 5-hydroxymethylfurfural (HMF), enzim, flavonoid, asam phenolic, dan komponen volatil. Kandungan utama madu yaitu air, glukosa, fruktosa, sukrosa, mineral dan protein. Kualitas madu dapat ditentukan dengan karakteristik sensoris, kimia, fisika, dan mikrobiologi. Kriteria utamanya yaitu kelembaban, electrical conductivity, kadar abu, reducing and non-reducing sugars, free acidity, diastase activity dan kadar HMF.

Electrical conductivity atau konduksitas merupakan salah satu faktor penting yang menentukan karakteristik fisika dari madu. Electrical conductivity sering digunakan untuk pembuktian secara physicochemical dalam membuktikan kemurnian madu yang berasal dari nektar tanaman berbunga yang sama (unifloral). Electrical conductivity digunakan untuk membedakan madu yang berasal dari nektar bunga dan embun madu berdasarkan standar tertentu. Nilai electrical conductivity tergantung dari kadar abu dan kandungan asam pada madu. Semakin tinggi kandungan asam dan kadar abu, maka akan semakin meningkatkan nilai electrical conductivity. Baru-baru ini parameter electrical conductivity menjadi salah satu standar internasional menggantikan pengujian kadar abu. Electrical conductivity merupakan kriteria yang bagus untuk manguji madu asli dan sering digunakan untuk mengontrol kualitas madu secara rutin.

Madu mengandung asam organik dan mineral garam, dan kedua komponen ini dalam istilah kimia disebut dengan “ionizable” apabila dilarutkan. Kedua komponen ini mampu menghantarkan arus listrik. Electrical conductivity merupakan tanda adanya asam ionizable dan senyawa encer pada larutan.

Nilai electrical conductivity tergantung dari asal nektar dan dapat digunakan sebagai klasifikasi madu unifloral. Electrical conductivity dari madu yang sudah matang cenderung rendah, yaitu sekitar 0,11–0,58 mS/cm. Hal ini berarti, madu yang sudah matang mengandung kadar mineral yang lebih rendah. Nilai electrical conductivity dari nektar madu dapat kurang dari nilai 0,80 mS/cm dengan beberapa pengecualian. Serbuk sari memiliki dampak yang lebih besar dalam menurunkan atau meningkatkan nilai electrical conductivity. Electrical conductivity berkemungkinan berasal dari komponen yang berasal dari lebah dalam proses pembuatan madu. Nilai electrical conductivity akan berubah disaat menurunnya kandungan serbuk sari dari nektar tanaman berbunga. Nektar dari beberapa tanaman memang lebih “kuat” daripada nektar lainnya, saat terjadi kontaminasi pada madu yang bernektar “kuat” maka akan terjadi perubahan kandungan sensoris dan physicochemical.

Electrical conductivity pada madu yang berwarna gelap akan memiliki nilai yang lebih besar daripada madu yang berwarna terang. Electrical conductivity madu pada musim panas tidak berbeda dengan madu pada musim dingin karena madu mengandung serbuk sari dan tidak ada kandungan apapun yang berubah karena perubahan musim.

author